Sore itu, saya bersama teman saya yang
berprofesi sebagai aktor, mengunjungi sebuah studio wedding bernama Paper Crane
di daerah North Sydney. Paper Crane merupakan penyedia jasa wedding videografi
di Sydney, dan menurut saya mereka yang terbaik di Sydney. Yang punya orang
Indonesia lho, yaitu Susanto. Tujuan kunjungan kami hanya sekedar silaturahmi
saja, karena teman saya udah lama tidak bertemu dengan pemilik Paper Crane.
Kami pun ngobrol santai seputar pemenang piala Oscar, sampai film Schindler's
list. Entah pada obrolan titik mana, saya ditanya Susanto dengan satu
pertanyaan menohok, “Wiwid, what is your ultimate goal?” Dia bertanya dengan
nada yang cukup serius. Saya terdiam beberapa saat memikirkan jawabannya,
karena bukan sekedar goal/target, tapi ultimate goal. Akhirnya saya menjawab
“saya pengen keliling dunia dengan fotografi…” Jawaban yang sebenarnya terbesit
saat obrolan itu.
Untuk mencapai target jangka panjang,
diperlukan target-target jangka menengah dan jangka pendek. Target dadakan yang
saya jawab di atas, Keliling dunia,
merupakan contoh target jangka panjang. Namun bisa jadi target tersebut menjadi
target jangka pendek atau menengah. Penentuan jenis target sangat tergantung
pribadi anda sendiri. Saya bisa mencontohkan guru favorit saya, Tania. Dia
merupakan seorang fotografer sekaligus seniman. Keliling dunia dia tempatkan
pada target jangka menengah, karena saat ini dia sering keliling dunia untuk
melakukan solo exhibition, baik di New York, Israel, maupun di Sydney. Dia bisa
menjadi seperti itu karena keuletannya menghasilkan karya baru. Sebagai wujud
kecintaannya terhadap fotografi Tania mengambil sekolah master di bidang fine
art. Pameran pernah di jalani, mengajar adalah bentuk dedikasinya terhadap
fotografi, namun apakah Tania berhenti sampai di sini saja? Ternyata tidak.
Suatu malam setelah pameran akhir angkatanku, Tania mengajak saya dan 1 teman
saya untuk dinner. Sembari bercanda ini itu, Tania bertanya kepadaku, “I really
want to know what is your goal in this life?”Saya pun menjawab dengan tegas, “I
want to have my own private photography school, the best one, and travel around
the world with my lovely little family…” Lalu dia menimpali “That’s really
good, you know what? Right now I’m thinking someday I will get my MUSEUM”. Tania
ingin memiliki sebuah Museum, yang lengkap dengan fasilitas kantor, studio
serta galeri. Apakah target Tania bisa dikatakan gila?
Manusia yang memiliki profesi, apapun itu,
pasti memiliki target dalam lingkungan kerjanya. Jika anda bekerja dalam sebuah
perusahaan, maka target tersebut lebih sering di tentukan oleh perusahaan.
Contoh paling simple adalah seorang Marketing yang di tekan oleh sebuah
perusahaan untuk mencapai angka target penjualan tertentu. Lain halnya seorang
fotografer freelance. Target yang ingin dicapai merupakan ambisi pribadi, yang
didukung oleh unsur-unsur ambisi, dedikasi, pengembangan diri serta ekonomi.
Jawaban saya atas pertanyaan Om Santo yang
sesaat merupakan sebuah kesalahan, karena target seorang pekerja kreatif harus
ditentukan, dituliskan, dinyatakan dan disematkan didalam hati. Dia menyarankan
bahwa sebagai seorang manusia kreatif, target harus di tentukan terlebih
dahulu, lalu menentukan caranya untuk meraih target tersebut. Logika berpikir
mundur adalah jalan untuk meraih target tersebut. Saran om Santo untuk berpikir
mundur juga diajarkan di sekolah saya. “Thinking backward will help you to
redefine the way how you will reach your goals”, ujar dosen pengajar
Professional Practices.
| Suatu saat saya ingin membuat buku foto :) |
Satu pengalaman yang sangat berharga yang
saya dapat di Sydney adalah visi fotografer di sini sudah melihat jauh ke
depan. Target mereka bisa saya katakana gila semua. Namun justru kegilaan
tersebut yang akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.
Dan sekarang saya bertanya kepada para
fotografer, “Apakah goal anda dapat dicapai melalui fotografi?” Jawabnya “Yes,
you can…” seperti foto dibawah ini.
Komentar